Denpasar – Kualitas air di empat danau besar di Bali, yakni Danau Batur, Beratan, Buyan, dan Tamblingan, dilaporkan terus mengalami penurunan signifikan akibat pencemaran dan aktivitas manusia. Pemerhati lingkungan dari Universitas Udayana, Prof. Ni Luh Kartini, mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida, pupuk kimia dari sektor pertanian, serta limbah domestik telah memicu eutrofikasi yang menyebabkan air danau berubah warna menjadi hijau. Kondisi ini menurunkan kadar oksigen secara drastis, yang tidak hanya mengancam kelangsungan hidup ikan lokal tetapi juga menurunkan status kualitas air dari kategori kelas tiga menuju kelas empat jika tidak segera ditangani secara serius.
Selain masalah pencemaran kimia, fenomena sedimentasi hebat menyebabkan pendangkalan drastis pada ekosistem danau di Bali. Data menunjukkan penyusutan kedalaman yang mengkhawatirkan, seperti Danau Buyan yang kini hanya memiliki kedalaman sekitar 80 meter dari sebelumnya 140 meter, serta Danau Batur yang menyusut hingga tersisa sekitar 64-80 meter. Pendangkalan ini berdampak langsung pada menurunnya debit mata air yang menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitar. Kondisi ekosistem semakin tertekan dengan dominasi ikan invasif jenis red devil di Danau Batur yang mencapai 60 persen populasi, sehingga mengancam keberadaan spesies ikan lokal endemik.
Untuk memulihkan kesehatan danau, Prof. Kartini menekankan pentingnya transisi ke sistem pertanian organik di kawasan penyangga serta pengelolaan limbah terpadu. Meskipun pemerintah telah membentuk kelompok kerja percepatan penanganan lingkungan, keberhasilannya sangat bergantung pada pembangunan karakter dan kesadaran masyarakat serta penegakan hukum yang konsisten di kawasan sempadan danau. Kolaborasi lintas sektor, termasuk pembentukan forum pelestarian danau oleh warga lokal, diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjaga ketahanan air dan keseimbangan ekosistem Bali secara berkelanjutan bagi generasi mendatang. Dikutip dari Antaranews.com