Penyakit super flu yang berasal dari Amerika Serikat telah terdeteksi masuk ke Indonesia dengan 62 kasus yang tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa temuan ini terpantau melalui sistem surveilans nasional di berbagai puskesmas dan rumah sakit hingga akhir tahun 2025. Secara medis, istilah ini merujuk pada infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H3N2, yang dikenal memiliki tingkat penularan lebih tinggi dibandingkan strain flu lainnya.
Gejala yang dialami penderita meliputi demam tinggi, batuk, pilek berat, nyeri otot, hingga kelelahan ekstrem. Virus ini menyerang berbagai kelompok usia, namun anak-anak dan remaja lebih rentan terinfeksi karena aktivitas sosial yang tinggi di sekolah. Selain itu, kelompok lansia di atas 64 tahun dan bayi juga memiliki risiko tinggi mengalami gejala berat akibat sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna atau telah melemah.
Langkah pencegahan utama yang disarankan oleh tenaga kesehatan adalah melakukan vaksinasi rutin, menggunakan masker di tempat ramai, dan menjaga kebersihan tangan. Jika seseorang terinfeksi, dianjurkan untuk segera beristirahat di rumah dan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan antivirus dalam 48 jam pertama. Meskipun sebagian besar pasien dapat pulih dengan sendirinya, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat varian H3N2 cenderung menyebabkan angka rawat inap yang lebih tinggi dibandingkan jenis flu biasa. Dikutip dari Kumparan.com