Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tumbuh 9,7 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp10.355,1 triliun, meningkat dibandingkan Februari yang tumbuh 8,7 persen.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menyampaikan pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen dan uang kuasi 5,2 persen (yoy). Selain itu, faktor utama lainnya berasal dari peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta penyaluran kredit.
Tagihan bersih kepada pemerintah tercatat tumbuh 39,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 8,9 persen (yoy) dan tetap stabil, mencerminkan fungsi intermediasi yang terjaga.
Di sisi lain, BI juga melaporkan uang primer (M0) adjusted tumbuh 16,8 persen (yoy) menjadi Rp2.396,5 triliun, dipengaruhi oleh kenaikan giro bank umum di BI serta uang kartal yang beredar.
Kondisi ini menunjukkan likuiditas ekonomi nasional tetap kuat, seiring kebijakan moneter yang terus diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari antaranews.com