Google kembali mencuri perhatian dunia teknologi dengan mengumumkan Project Suncatcher, sebuah inisiatif ambisius yang bertujuan membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa. Proyek ini menjadi langkah besar dalam upaya perusahaan untuk menghadirkan sistem komputasi yang ramah lingkungan dan efisien.
Memanfaatkan Energi Matahari Langsung di Orbit
Dilansir dari Arstechnica pada Kamis (13/11), Project Suncatcher akan memanfaatkan energi matahari secara langsung di orbit untuk memenuhi kebutuhan daya pusat data AI.
Berbeda dengan di Bumi, pasokan energi matahari di luar angkasa jauh lebih stabil dan tidak terganggu oleh kondisi cuaca.
Produktivitas panel surya di luar angkasa bahkan disebut delapan kali lipat lebih tinggi dibandingkan di permukaan Bumi. Dengan teknologi ini, Google berharap dapat menciptakan pusat data AI yang beroperasi tanpa batas waktu dan lebih hemat energi.
Jaringan Satelit Jadi Fondasi Pusat Data AI
Google berencana membangun jaringan satelit kecil yang masing-masing dilengkapi dengan Tensor Processing Unit (TPU) — chip yang dirancang khusus untuk kebutuhan AI dan machine learning.
Satelit-satelit ini akan terhubung melalui komunikasi optik berkecepatan tinggi, mencapai puluhan terabit per detik.
Sistem tersebut memungkinkan penerapan machine learning terdistribusi tanpa bergantung pada pusat data fisik di Bumi. Selain itu, karena berada di luar atmosfer, pusat data ini tidak memerlukan lahan luas atau sistem pendingin konvensional.
Tantangan Teknis dan Ketahanan di Ruang Angkasa
Meski menjanjikan, proyek ini masih menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti mekanisme pendinginan perangkat keras di ruang hampa dan ketahanan chip terhadap radiasi kosmik.
Google menyebut TPU generasi Trilium telah menunjukkan daya tahan radiasi yang cukup untuk bertahan selama lima tahun di orbit.
Rencananya, satelit prototipe pertama akan diluncurkan pada awal 2027 bersama perusahaan antariksa Planet Labs. Bila uji coba ini sukses, pembangunan pusat data orbit penuh diharapkan dapat dimulai pada pertengahan 2030, seiring menurunnya biaya peluncuran ke luar angkasa.
Mode AI di Google Search Akan Gunakan Data Gmail dan Drive
Selain Project Suncatcher, Google juga tengah menyiapkan Mode AI baru pada layanan Google Search.
Fitur ini akan memungkinkan sistem AI mengakses data pengguna dari Gmail, Google Drive, dan Google Calendar untuk memberikan hasil pencarian yang lebih relevan dan personal.
Menurut laporan Bleeping Computer (3/11/2025), langkah ini menggunakan Large Language Model (LLM) untuk menghadirkan pengalaman pencarian yang lebih cerdas.
Robbie Stein, VP Google Search, menjelaskan bahwa Mode AI nantinya dapat merencanakan perjalanan, membuat jadwal, hingga memberikan ide dan referensi liburan dengan memanfaatkan data pribadi pengguna—tentunya dengan izin eksplisit.
Privasi Tetap Jadi Prioritas
Google menegaskan bahwa personalisasi ini bersifat sukarela. Pengguna harus memberikan izin terlebih dahulu sebelum AI dapat mengakses data pribadi mereka.
Dengan sistem ini, Google berharap dapat menghadirkan pengalaman pencarian yang lebih kontekstual, cepat, dan bermanfaat tanpa mengorbankan keamanan data.
Dikutip dari merdeka.com