Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI membuka ruang untuk penurunan suku bunga acuan (BI Rate) ke depan. Langkah ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama percepatan pertumbuhan kredit perbankan yang masih melambat.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut,” ujar Perry dalam pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan November 2025 secara daring, Kamis (20/11/2025).
Suku Bunga Perbankan Masih Lambat Turun
Perry menjelaskan salah satu isu utama adalah lambatnya penurunan suku bunga perbankan, baik deposito maupun kredit. Hal ini disebabkan adanya special rate, yakni suku bunga khusus bagi deposan besar seperti pemerintah, kementerian/lembaga, non-BUMN, industri keuangan nonbank, dan swasta.
Akibatnya, meski BI Rate sudah turun 125 basis poin (bps) sepanjang 2025, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 bps, dari 4,81% menjadi 4,25%. Sementara suku bunga kredit turun lebih lambat, hanya 20 bps, dari 9,20% menjadi 9,00%.
Perry menekankan bahwa efektivitas transmisi pelonggaran moneter perlu diperkuat, termasuk melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan. Pemerintah dan otoritas terkait telah meminta deposan besar menurunkan permintaan special rate.
Dorong Pertumbuhan Kredit Lebih Cepat
Meski penurunan special rate mulai terjadi, kredit perbankan Oktober 2025 tercatat tumbuh 7,36% (yoy), menurun dari 7,70% pada bulan sebelumnya. Perry menyebut, jika suku bunga deposito turun, maka suku bunga kredit juga akan bisa turun.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 akan berada pada batas bawah kisaran 8–11%, dan meningkat pada 2026. Perry menambahkan, tambahan likuiditas dari berbagai kebijakan BI seharusnya mendorong suku bunga perbankan turun lebih cepat, sehingga penyaluran kredit meningkat.
Koordinasi fiskal-moneter juga penting untuk meningkatkan permintaan kredit sektor riil, termasuk menurunkan kredit menganggur yang per Oktober 2025 masih mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97% dari plafon tersedia.
Penurunan Suku Bunga di Pasar Uang
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menuturkan bahwa penurunan BI Rate 125 bps sepanjang 2025 sudah tercermin di pasar uang. Misalnya, INDONIA turun 202 bps menjadi 4%, dan imbal hasil SBN tenor 10 tahun melemah 85 bps menjadi 6,13%.
Namun, tantangan muncul di sektor perbankan, di mana suku bunga kredit baru turun 20 bps dan DPK turun 23 bps.
Destry juga menyoroti tekanan pada nilai tukar rupiah akibat kondisi global yang penuh ketidakpastian. Indeks Dolar AS (DXY) naik, sementara aliran modal asing ke pasar negara berkembang terbatas. Akibatnya, rupiah melemah 0,48% secara QTD sejak Oktober 2025, diikuti depresiasi mata uang regional seperti peso Filipina, baht Thailand, dan won Korea. Dikutip dari Metrotvnews.com