Industri kelapa sawit Indonesia menghadapi tantangan global yang kompleks, mulai dari standar keberlanjutan hingga fluktuasi harga. PT Batu Gunung Mulia Putra Agro (PT BGMPA), yang beroperasi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, mengambil langkah strategis melalui digitalisasi untuk menghadapi tantangan ini.
Sebelum transformasi, PT BGMPA masih mengandalkan sistem manual, sehingga pelaporan bulanan memakan waktu hingga 30 hari. Minimnya visibilitas dalam rantai produksi dan pengadaan membuat prediksi harga dan risiko operasional menjadi sulit, berdampak pada efisiensi dan pendapatan petani.
Melalui program GROW with SAP, perusahaan mengimplementasikan SAP S/4HANA Cloud Public Edition, mengintegrasikan pengadaan, produksi, keuangan, dan manajemen aset dalam satu platform terpadu. Hasilnya signifikan: siklus pelaporan yang sebelumnya 30 hari kini hanya 3 hari, margin keuntungan meningkat dari 3% menjadi 5–7%, dan penetapan harga sawit menjadi lebih presisi dan transparan.
Transformasi ini juga fokus pada petani. Sistem real-time memastikan harga Tandan Buah Segar (TBS) tercatat dengan akurat, meningkatkan kepercayaan dan menciptakan ekosistem yang adil. Melalui program Community Estate Support, PT BGMPA mendukung produktivitas, pembiayaan, dan praktik agronomi berkelanjutan.
Langkah digitalisasi ini menegaskan bahwa inovasi teknologi dapat memperkuat industri sawit Indonesia, meningkatkan efisiensi operasional, dan membangun tata kelola berbasis data yang siap bersaing di pasar global.
Dikutip dari liputan6.com