Jakarta – Aktor pengisi suara kenamaan Bimo Kusumo, atau yang akrab disapa Bimoky, mengungkapkan tantangan uniknya dalam menghidupkan karakter robot bernama Batik dalam film terbaru “Pelangi di Mars”. Bimo menjelaskan bahwa meskipun Batik adalah sebuah entitas robot, ia merancang karakter suaranya agar terasa sangat manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Baginya, Batik bukan sekadar mesin, melainkan representasi sosok ayah pelindung bagi karakter utama, Pelangi, yang mencerminkan hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak di dunia nyata.
Dalam membangun karakter suara Batik, Bimo menarik inspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah. Ia berusaha menghadirkan vibrasi suara yang personal dan relevan agar penonton dapat merasakan kehangatan figur ayah di balik cangkang robot fiksi ilmiah tersebut. Proses ini diakuinya tidak mudah; Bimo harus menjalani sesi rekaman intensif selama satu minggu penuh dengan teknik suara berat (deep voice) untuk menggambarkan kondisi robot yang sedang rusak. Tekanan pada pita suara yang konsisten selama berjam-jam bahkan sempat membuatnya mengalami suara serak hingga hampir menyerah di tengah proses produksi.
Keterlibatan Bimoky dalam film “Pelangi di Mars” juga menjadi misi personalnya untuk memperkenalkan profesi pengisi suara (voice actor) sebagai pilar penting dalam industri kreatif animasi tanah air. Ia menekankan bahwa kualitas talenta lokal dalam memberikan “nyawa” pada karakter visual adalah kunci keberhasilan sebuah cerita. Bimo berharap profesi ini semakin diapresiasi seiring dengan berkembangnya kualitas produksi film nasional yang kini mulai berani mengeksplorasi genre sci-fi dan live action secara bersamaan.
Selain dari sisi akting suara, Bimo memuji penggunaan teknologi Extended Reality (XR) dalam film ini yang dinilainya telah menetapkan standar baru bagi perfilman Indonesia. Ia mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir yang selalu membandingkan karya lokal dengan Hollywood secara pesimistis. Dengan lahirnya “Pelangi di Mars”, Indonesia membuktikan mampu menggabungkan visual virtual tingkat tinggi dengan narasi yang menyentuh hati. Bimo optimis bahwa karya ini akan menjadi pemantik bagi lahirnya inovasi-inovasi yang lebih besar di masa depan industri sinema nasional. Dikutip dari Antaranews.com