Analis Ungkap Kunci Stabilitas Ekonomi Domestik di Tengah Badai Global

Analis Ungkap Kunci Stabilitas Ekonomi Domestik di Tengah Badai Global

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap stabil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa resiliensi ekonomi nasional saat ini ditopang kuat oleh konsumsi domestik dan stimulus fiskal pemerintah. Meskipun lembaga global merevisi proyeksi pertumbuhan akibat kenaikan harga energi, risiko perlambatan di Indonesia diperkirakan hanya bersifat moderat dan tidak akan mengalami penurunan tajam, sehingga fundamental ekonomi tetap terjaga di kisaran 5 persen.

Namun, ketidakpastian di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel memberikan tekanan signifikan pada sektor fiskal dan nilai tukar. Analis ekonomi politik Kusfiardi memperingatkan adanya risiko supply shock pada titik lemah Indonesia, yakni ketergantungan pada impor BBM. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS berpotensi menambah beban subsidi APBN hingga Rp10,3 triliun. Kondisi ini memaksa pelaku pasar untuk menerapkan strategi “ultra-defensif” dengan beralih ke saham perbankan besar (big caps), sektor telekomunikasi, serta aset lindung nilai seperti emas guna menghadapi volatilitas rupiah yang sempat menyentuh level Rp16.997 per dolar AS.

Memasuki kuartal II-2026, tantangan stagflasi membayangi seiring melambatnya pertumbuhan yang dibarengi pembengkakan biaya logistik dan energi. Langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga di level 4,75 persen dipandang sebagai upaya defensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar, meski ruang pelonggaran moneter kini tertutup. Ke depan, arah pasar keuangan Indonesia—yang tercermin dari posisi IHSG di level 7.097—akan sangat bergantung pada respons diplomasi internasional di Selat Hormuz serta keberanian pemerintah dalam menata ulang ruang fiskal demi meredam dampak lonjakan harga komoditas global. Dikutip dari Antaranews.com

About The Author