Sutradara Joko Anwar melibatkan enam ilustrator Indonesia berskala internasional untuk menciptakan “instalasi kengerian” dalam film horor terbarunya, Ghost in the Cell. Konsep seni ini memadukan keindahan dan kengerian, menjadi salah satu elemen utama cerita film.
“Indonesia memiliki banyak ilustrator berbakat dengan gaya visual kuat dan unik. Kolaborasi ini penting untuk memperkaya ekosistem kreatif lokal,” ujar Joko Anwar.
Keenam ilustrator tersebut adalah Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO. Mereka merancang visual yang merepresentasikan ketakutan kolektif masyarakat, mulai dari ilustrasi makhluk hingga instalasi horor yang sinematik.
Beberapa ilustrator memiliki pengalaman internasional, seperti Anwita Citriya yang pernah membuat cover komik Creepshow dan Universal Monsters, serta Coki Greenway yang bekerja sama dengan band besar seperti AC/DC dan Marvel untuk merchandise. Rudy AO, misalnya, ahli pewarnaan digital untuk sampul komik DC, Red Sonja, dan Vampirella.
Film ini bercerita tentang teror hantu di penjara Labuhan Angsana yang mengincar narapidana dengan energi negatif. Setelah tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale 2026), film Ghost in the Cell telah mendapatkan distribusi internasional di Amerika Utara oleh Well Go USA, Rusia, Spanyol, Taiwan, Thailand, Mongolia, serta wilayah Asia Tenggara oleh Purple Plan Pte. Di Jerman dan sekitarnya, film akan tayang melalui Plaion Pictures, sementara negosiasi masih berlangsung untuk wilayah Benelux.
Dikutip dari antaranews.com