JAKARTA – Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyatakan bahwa sentimen domestik terhadap rupiah terpantau relatif positif di tengah sikap pelaku pasar yang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18–19 Agustus 2026. Fokus utama para investor saat ini tertuju pada arah kebijakan suku bunga acuan atau BI-Rate yang diprediksi tetap berada di level 5,75 persen. Di samping itu, BI juga terus mendorong penyaluran kredit lewat pelonggaran likuiditas demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional tanpa mengabaikan stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Dari kancah global, pergerakan rupiah turut mendapat angin segar dari melemahnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September mengalami penurunan menyusul data ekonomi AS yang menunjukkan sinyal perlambatan, termasuk terkoreksinya penjualan ritel AS sebesar 0,6 persen secara bulanan pada Juli 2026. Selain itu, berkurangnya jumlah lapangan kerja sektor non-pertanian turut meredam tekanan terhadap dolar AS serta membuka ruang penguatan bagi mata uang Garuda.
Kendati demikian, Amru mengingatkan bahwa potensi risiko geopolitik global dan fluktuasi harga minyak masih menjadi faktor penahan yang membatasi laju penguatan rupiah. Dalam jangka pendek, mata uang Garuda diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS dengan kecenderungan menguat secara terbatas. Hasil akhir RDG BI serta kejelasan sinyal kebijakan moneter ke depan akan menjadi penentu utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global. Dikutip dari Antaranews.com