Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Jumat (11/9) pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp17.585 per dolar AS, turun 38 poin atau 0,22 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah tersebut terjadi ketika dolar AS kembali menguat, sementara imbal hasil obligasi dan harga minyak dunia mengalami kenaikan. Kondisi pasar global turut dipengaruhi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi berlangsung lebih lama.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, rupiah berpeluang bergerak dalam rentang Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau beragam. Yen Jepang, yuan China, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong menguat, sementara baht Thailand serta peso Filipina mengalami pelemahan.
Perkembangan nilai tukar rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, harga minyak dunia, serta sentimen geopolitik global.