JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau bergerak stagnan pada perdagangan Selasa pagi ini. Berdasarkan data pasar keuangan, kurs rupiah berada di level Rp17.995 per dolar AS, tidak mengalami perubahan alias 0,00 persen dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan datar ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang cenderung menahan diri menjelang rilis data ekonomi penting.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan mata uang Garuda berpotensi mengalami tekanan dan melemah ke kisaran Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS sepanjang hari ini. Sentimen global menjadi pemicu utama, di mana investor tengah mengantisipasi rilis notulen rapat (meeting) Federal Reserve (The Fed) pada Kamis, 9 Juli waktu AS. Meskipun indeks dolar AS sempat melemah, pasar tetap waspada mencermati arah kebijakan suku bunga acuan di bawah kepemimpinan Gubernur Bank Sentral AS, Kevin Warsh, terutama setelah rilis data tenaga kerja nonfarm payrolls (NFP) yang memburuk.
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah juga dibayangi oleh sejumlah sentimen domestik yang kurang menguntungkan. Pelaku pasar saat ini tengah mencermati defisit neraca perdagangan yang mencapai 1,61 miliar dolar AS serta aksi jual bersih asing (outflow) di pasar saham yang menembus Rp2,73 triliun sejak awal Juli. Selain itu, pasar juga bersikap wait and see menanti rilis data cadangan devisa oleh Bank Indonesia (BI) siang ini, yang diperkirakan menurun akibat langkah intervensi BI di pasar valas untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Dikutip dari Antaranews.com