JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pascapengumuman hasil rebalancing MSCI May 2026 Index Review masih berada dalam batas wajar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa frekuensi, volume, dan nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menunjukkan aktivitas normal. Hingga Rabu siang, tidak terlihat adanya aksi jual panik (panic selling) dari investor, yang menandakan bahwa pasar masih memiliki daya serap dan kekuatan beli yang seimbang di tengah koreksi indeks.
Pelemahan ini dipandang sebagai konsekuensi jangka pendek (short term pain) dari upaya reformasi integritas dan transparansi pasar modal yang tengah dijalankan otoritas. Kebijakan untuk membuka data kepemilikan saham secara lebih detail memungkinkan penyedia indeks global seperti MSCI melakukan penghitungan porsi saham secara lebih akurat. OJK meyakini bahwa penyesuaian harga saham yang terdampak merupakan langkah transisi menuju pasar modal Indonesia yang lebih kredibel, transparan, dan kompetitif dalam jangka panjang bagi investor global.
Di sisi lain, koreksi ini justru membuat valuasi saham Indonesia menjadi semakin menarik secara regional. Hasan menyebutkan bahwa rasio harga terhadap laba atau Price to Earnings Ratio (PER) IHSG saat ini berada di level sekitar 16 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata bursa saham negara tetangga. Dengan valuasi yang kompetitif tersebut, regulator mendorong investor untuk memanfaatkan momentum ini secara selektif guna mengoleksi saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek kinerja yang positif di masa depan.
Pihak BEI juga menambahkan bahwa keputusan MSCI telah mengurangi satu unsur ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar. Meskipun sejumlah saham unggulan seperti AMMN, BREN, hingga TPIA resmi keluar dari MSCI Global Standard Index, kejelasan status ini memungkinkan investor untuk melakukan penyesuaian portofolio secara lebih terukur. Fokus pasar kini diharapkan beralih pada perbaikan kinerja emiten dan stabilitas ekonomi makro, mengingat status Indonesia yang tetap kokoh di kelompok emerging market. Dikutip dari Antaranews.com