Bapanas Sebut Harga Pangan Stabil Usai Lebaran Haji Berkat Intervensi Kuat

Bapanas Sebut Harga Pangan Stabil Usai Lebaran Haji Berkat Intervensi Kuat

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan fluktuasi harga pangan pokok strategis pasca-Idul Adha 1447 H/2026 M tetap aman dan terkendali di tengah ketidakpastian geopolitik global. Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengungkapkan bahwa penguatan intervensi pasar sebelum dan sesudah hari raya terbukti efektif menjaga stabilitas pasokan serta menekan inflasi nasional per April 2026. Berdasarkan pantauan per 29 Mei, mayoritas harga pangan pokok masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP), seperti beras medium nasional di angka Rp13.456 per kg, daging ayam ras Rp38.385 per kg, dan telur ayam ras Rp29.469 per kg. Meski begitu, tantangan distribusi akibat belum meratanya sentra produksi membuat komoditas seperti bawang merah (Rp47.185 per kg) dan cabai merah keriting (Rp60.638 per kg) masih terpantau berada di atas HAP.

Guna menjaga keseimbangan harga yang adil bagi konsumen sekaligus menguntungkan petani sebagai produsen, pemerintah terus menggencarkan berbagai program intervensi pangan strategis sepanjang tahun ini. Pada sektor perberasan, pemerintah menyerap hasil panen dengan harga baik Rp6.500 per kg di tingkat produsen, serta menyalurkan beras SPHP yang realisasinya telah menembus 507 ribu ton sejak Januari hingga Mei 2026. Selain itu, Bapanas bersama Perum Bulog telah mendistribusikan bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada 15,4 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari target total 33,2 juta KPM. Langkah ini diperkuat dengan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) masif yang telah digelar sebanyak 5.037 kali di 417 kabupaten/kota, melonjak tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Optimisme stabilitas ini didukung penuh oleh pernyataan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menegaskan bahwa ketahanan pangan Indonesia kini semakin mandiri dan berkelanjutan. Saat ini, porsi impor pangan pokok strategis nasional tercatat hanya berkisar antara 4 hingga 5 persen, sementara 96 persen sisanya berhasil dipenuhi secara mandiri melalui produksi domestik. Keberhasilan menekan ketergantungan luar negeri ini dibuktikan dengan komitmen tegas pemerintah yang telah menghentikan impor beras umum dan jagung pakan sejak tahun 2025, dan kini ditargetkan akan berlanjut untuk komoditas gula konsumsi pada tahun 2026. Dikutip dari Antaranews.com

About The Author