Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa pagi. Rupiah tercatat turun 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.859 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.843 per dolar AS. Pelemahan kurs rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan geopolitik global, khususnya terkait rapuhnya hasil perundingan damai antara AS dan Iran yang kembali memicu sentimen risk-off di pasar keuangan.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian hubungan AS dan Iran, meskipun harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan yang relatif stabil. Selain itu, indeks dolar AS yang bertahan tinggi di level 101 turut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasar juga mencermati perkembangan terbaru setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran, yang memicu ketegangan dalam proses negosiasi dan mendorong delegasi Iran keluar dari pertemuan diplomatik.
Di sisi lain, kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung hawkish menjadi faktor tambahan yang menekan pergerakan rupiah. Prospek kenaikan suku bunga AS untuk mengendalikan inflasi berpotensi memperkuat indeks dolar dalam jangka pendek. Meski demikian, pemerintah Indonesia telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026 yang mencakup insentif transportasi, program magang dan vokasi, serta bantuan pangan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.