Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan program modernisasi 4.582 kapal perikanan mampu menghasilkan sekitar 1,05 juta ton ikan per tahun dengan nilai ekonomi mencapai Rp28,5 triliun. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas armada penangkapan ikan nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya perikanan Indonesia.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan menyampaikan bahwa program tersebut diperkirakan membutuhkan 61.729 awak kapal dan konsumsi bahan bakar minyak sekitar 3,5 juta kiloliter. Kapal yang dimodernisasi memiliki beragam ukuran untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan di wilayah pesisir, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, hingga laut lepas.
Namun, KKP menegaskan bahwa penambahan armada harus disertai pembenahan ekosistem perikanan, termasuk industri galangan kapal, pemeliharaan armada, dan fasilitas pelabuhan. Pengelolaan limbah juga menjadi perhatian karena sejumlah kawasan perkapalan masih menghadapi persoalan pencemaran akibat pembuangan oli dan pembersihan tangki yang tidak sesuai ketentuan.
Direktur Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan KKP, Mochamad Idnillah, mengungkapkan bahwa masih terdapat potensi sumber daya ikan sekitar 2,2 juta ton per tahun yang belum dimanfaatkan oleh armada yang ada. Lebih dari 50 persen potensi tersebut berada di wilayah pengelolaan perikanan zona 3, meliputi Laut Aru, Laut Arafura, dan Laut Timor bagian timur.
Melalui modernisasi armada, KKP berharap produktivitas perikanan meningkat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Program ini juga diharapkan mendorong peningkatan pendapatan serta kesejahteraan nelayan, dengan tetap memperhatikan kesiapan infrastruktur pendukung dan kelestarian lingkungan laut.