DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengungkapkan bahwa daya tarik investasi di Pulau Dewata tetap menunjukkan performa kuat dan menarik di tengah tekanan krisis geopolitik global. Kepala BI Bali, Achris Sarwani, menegaskan ketahanan ini disokong kuat oleh pemberian insentif dari pemerintah serta keunggulan komparatif Bali sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, BI bersama Pemerintah Provinsi Bali telah menyusun katalog investasi strategis yang mencakup 22 proyek infrastruktur potensial, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, hingga pengadaan kendaraan listrik massal.
Ketahanan ekonomi ini tercermin nyata dalam data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), di mana realisasi Penanaman Modal Foreign/Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Bali sukses menembus angka Rp42,82 triliun pada tahun 2025, atau tumbuh sebesar 17,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan investasi yang masif tersebut bahkan mampu menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja lokal. Kendati demikian, Bali masih dihadapkan pada tantangan pemerataan kualitas investasi karena sekitar 88 persen realisasi modal masih menumpuk di wilayah Bali Selatan—seperti Badung dan Denpasar—serta didominasi hingga 97 persen oleh sektor tersier, khususnya real estate dan akomodasi pariwisata.
Melihat kondisi tersebut, BI mendorong pentingnya penguatan investasi yang lebih inklusif, merata, dan terdiversifikasi secara spasial maupun sektor ekonomi di seluruh kabupaten. Namun secara keseluruhan, Bank Indonesia tetap optimis dan memprakirakan pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2026 ini akan tetap tumbuh solid di kisaran 5,4%−5,9% secara year-on-year (YoY). Penguatan outlook ekonomi yang diiringi dengan tingkat inflasi yang terjaga, tingginya optimisme para pelaku usaha, serta daya saing daerah yang sangat baik dinilai akan terus membuka peluang lebar bagi masuknya aliran modal baru ke Bali. Dikutip dari Antaranews.com