Konflik Global & Harga Minyak Naik, BI Sebut Tertekan Risiko Inflasi Dunia

Konflik Global & Harga Minyak Naik, BI Sebut Tertekan Risiko Inflasi Dunia

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa tekanan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS dipicu oleh kekhawatiran geopolitik global dan risiko meningkatnya inflasi dunia. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah di atas 108 dolar AS per barel—akibat belum tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz—mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut. Kondisi tersebut memicu imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun melambung hingga 5,23 persen, yang merupakan level tertinggi sejak 2007. Selain faktor sentimen global, peningkatan kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang akhir triwulan III serta aksi lepas portofolio (capital outflow) di pasar negara berkembang (emerging markets) turut memperberat posisi rupiah.

Menanggapi dinamika pasar finansial tersebut, Bank Indonesia memastikan komitmennya untuk terus berada di pasar guna mengawal stabilitas nilai tukar sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi nasional. Bank sentral menerapkan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market) dengan memperkuat efektivitas stabilisasi rupiah serta mengelola struktur suku bunga pasar uang secara terukur. Di samping itu, BI meningkatkan daya tarik instrumen lindung nilai seperti transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna menjaga kecukupan likuiditas serta mempermudah pendanaan luar negeri bagi perbankan dan korporasi domestik.

Guna menahan ketidakpastian lebih lanjut, BI melakukan intervensi secara konsisten melalui kombinasi transaksi NDF di pasar offshore, pasar spot, DNDF domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Erwin menegaskan bahwa pelemahan rupiah sebesar 0,67 persen secara quarter-to-date (qtd) masih berada dalam rentang pergerakan mata uang kawasan regional. Ketahanan sektor eksternal Indonesia juga dinilai tetap solid, ditopang oleh posisi cadangan devisa yang kuat sebesar 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 sebagai benteng utama penjaga stabilitas moneter nasional. Dikutip dari Antaranews.com

About The Author