Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan generasi muda Indonesia agar mewaspadai dominasi algoritma di era digital yang dinilai dapat menjadi bentuk baru penjajahan melalui pengaruh platform digital dan media sosial.
Menurut Nezar, kehidupan masyarakat saat ini semakin dipengaruhi oleh ruang digital yang dikendalikan algoritma. Sistem tersebut secara perlahan membentuk pola pikir, perilaku, hingga persepsi publik terhadap informasi yang dikonsumsi setiap hari.
Ia menjelaskan, algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai preferensi pengguna secara berulang. Kondisi ini dapat menciptakan fenomena filter bubble dan echo chamber yang membuat masyarakat semakin jarang terpapar sudut pandang berbeda.
Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis, khususnya di kalangan generasi muda yang sangat aktif di ruang digital.
Selain itu, Nezar juga menyoroti persaingan global yang semakin ketat dalam penguasaan teknologi, terutama di sektor Artificial Intelligence dan industri semikonduktor. Ia menilai Indonesia harus mampu menjadi pemain aktif dalam ekosistem teknologi global, bukan sekadar konsumen.
Nezar menegaskan Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi dan sumber daya mineral strategis. Namun potensi tersebut harus didukung dengan penguatan kemampuan di bidang STEM serta literasi digital yang kuat.
Ia pun mengajak generasi muda dan organisasi kepemudaan untuk membangun kemandirian teknologi nasional serta menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif demi masa depan bangsa.
Dikutip dari RRI.co.id